Kehilang adalah sesuatu kata atau hal yang
sangat menyedihkan aku pernah merasakannya, pergi meninggalkan Dan
tanpamengatakan bahwa aku mencintainya.
Ini Cerita yang
kualami kurang lebih sebulan yang lalu, aku mendengar suara ribut – ribut
seperti orang pacaran. Begitu penasarannya akupun melongok sedikit ke arah gang
itu, benar saja ada sepasang kekasih yang ribut besar. Sepertinya mereka
meributkan hal yang sepele, dari awal aku menatap pertengkaran mereka wajah si
cowok sangat tenang dan dingin, bahkan dia tak berbicara apapun, karena begitu
tenanganya ia meninggalkan si cewek begitu tenangnya. Aku sendiri bingung
kenapa ada orang yang begitu tenangnya menghadapi pertengkaran ?
Dia berjalan ke arahku.
Kupalingkan wajahku dan berpura – pura
membaca koran di sebelahku. Dia terus memperhatikanku.... apa dia ingin marah –
marah padaku karna telah menguping pembicaraan mereka, dia dekatkan wajahnya dn
berkata.
“ Hei, kau itu memang
aneh atau memang biasa membaca terbalik ? ” Dengan wajah dingin ia mengucapkan itu.
Aku mengangkat
alis dan melihat apa yang kubaca. Benar saja aku terbalik membacanya.
“ Emm... Iya, aku.. sedang
mencoba membaca... ”
Belum selesai aku
berbicara ada cewek (lebih tepatnya cewek yang tadi di gang) berteriak – teriak
sebuah nama yaitu Dan Nazomaru. Sejak saat itu aku mengenal Dan, tapi itu hanya
pertemuan singkat.
Ë
3 hari berselang, aku sedang
berjalan menuju toko musik dan saat itu lagi aku mendengarkan suara ribut –
ribut lagi dari arah gang yang sama 3 hari lalu, karena mungkin dasarnya aku
adalah orang yang penasaran aku melongok ke arah gang itu. Ternyata itu orang
yang 3 hari lalu bertengkar disini namun, dengan cewek yang berbeda. Waktu itu rambut
panjang, segi dengan make – up yang
benar – benar over dan yang sekarang rambut pendek, bob dengan high heels yang
begitu tinggi. Lelaki itu lagi – lagi melengos pergi. Benar – benar ya Cowok
itu, cowok itu pasti mau ke arah sini, lebih baik aku bersembunyi.
Setelah tadi pergi selang 3 menit aku
keluar dan melihat cewek yang tadi penuh air mata berlinang mengalir di
wajahnya, dia sesungukan menyebut nama Dan Nazomaru. Dengan begitu percaya diri
dan penasaran aku tanya cewek tadi.
“Ane – san.. Daizo ka?1” dengan wajah penasaran sekaligus kebingungan
“i.. ya.. hek.... hek...” sungguh sedih wajahnya.
“Ada apa? Kenapa kau
sesedih itu ?” aku pura – pura
tak tau apa – apa tentang pertengkaran tadi.
“Pacarku .... BODOH!!
Dia... HUAAA!!”
Cewek itu menjerit
di depan telingaku.
“Ane – san2 , tenanglah.. ceritakan padaku pelan – pelan
ya.. Oiya maaf kalau aku tidak sopan, namaku Gitā Utaro..”
“Gitā... Gitar? Entah siapa
namamu.. dia si Dan itu benar – benar dia begitu dingin, tidak ada
romantisnya dan itu mirip dengan tidak peduli HUAAA!!” lagi – lagi ia teriak dan parahnya lagi SROOT ia buang ingus didepanku.
“Benarkah? Jadi lelaki
bernama Dan itu pacarmu? Dan dia sedingin itu?” aku sedikit kagum pada gadis ini mau jadi pacar manusia itu.
“hek...hek.. iya
dan bodohnya lagi aku yang mengajaknya pacaran HUAA!!”
Saat cewek tadi berkata
seperti itu, berkata seperti itu, aku langsung diam tidak bergerak. Kenapa
tuhan begitu adil shingga orang seperhatian ane – san ini di pertemukan dengan
manusia sedingin Dan. Yang bisa kulakukan pada cewek tadi hanya menepuk – tepuk
pundaknya lalu, pergi.
Ë
Satu minggu berlalu
dan dalam seminggu itu aku terus berpikir apa aku bisa berpacaran dengan orang
macam Dan? Tapi aku tidak ingin menembaknya yang terlebih dahulu, aku ingin dia
yang tergila – gila padaku. Bagaimanapun caranya...
Tapi bagaimana caranya??. Aku
terus – terusan menggumam perkataan tadi.
BRAKK!!
Sepertinya aku menabrak
sesuatu, sesuatu yang besar dan itu..
kupandangi ternyata orang, dari
bawah ke atas ternyata Dan.... itu Dan ?! Dan Nazomaru ?!! benar ini pasti
takdir yangg di tentukan Kami3.
Tuhan ingin aku mencoba menaklukannya. Terima kasih Kami J
Aku buru – buru minta maaf padanya dan
membersihkan pundaknya. Seperti ia tidak suka dengan perlakuan ku padanya.
Karena mukanya berubah masam dan mengerut, tanpa basa – basi apapun ia
melanjutkan perjalanannya sedangkan aku? Menguntit dibelakangna. Langkah demi
langkah ku hentakkan untuk mengetahui tempat mana saja yang ia kunjungi. Dari
seluruh pengamatan ku dia pergi ke Cafe Maxifix, tempat pelajaran tambahan kecil
dan toko kaset. Aku sendiri tidak tau apa yang ia lakukan, tapi jujur kakiku
hampir saja copot. Huuh .. tiba – tiba ada yang menyodorkan minuman isotonic ke
arah ku, ketika kuangkat kepalaku itu Dan, dia memberiku minum? Baik sekali
ya.. baru saja aku ingin ir yang baik – baik ternyata dia malah berkata.
“kau pasti capek
seharian mengikutiku” dengan wajah
dinginya.
Tubuhku beku
seketika, kenapa ia bicara seperti itu dengan wajah yang aneh itu. Aku menolak
tawarannya itu dan memalingkan wajahku. Tapi Dan tak bereaksi apa – apa, dia
justru ikut duduk di sebelahku. Ia mengetuk – ketuk kakinya, seperti
mendengarkan musik (memang sedang menggunakan headset). Aku yang penasaran
dengan kelakuannya itu mendekatkan telingaku pada telinganya. Makin dekat,
terus mendekat.. dan akhirnya pipi kami menempel, Dan begitu terkejut dan
mengangkat kepalanya karena kelakuannya itu aku hampir saja tersungkir.
Dia mengerutkan keningnya,
sambil menatapku aneh. Aku menunjuk headsetnya, Dan melepaskan headse itu dan
melihatnya sambil berkata.
“kau mau
mendengarnya?” sambil
menunjukkan muka masamnya.
“ti.. tidak,
aku hanya ingin tau apa yang kau dengar..”
Yah, hanya itu
yang kuinginkan,
kok. Kenapa ia begitu marah sih? Lagipula.. benar kita kan baru bertemu! Aku
baru ungat hal itu dan menatapnya, kulebarkan cengiranku dan mencoba berdiri
“maaf, aku lupa .. kita
baru pertama bertemu..”
Kulangkahkan kakiku kekiri satu langkah,
dua langkah, dan lari.
BODOH!!!! Gerutuku dalam hati.
Kulirik ke belakang Dan ingin menahanku
tapi ku perkuat lariku. Dan hanya menatap tanganya, lalu melambaikan tangan.
Ë
Kulemparkan
jaketku ke atas kasur yang empuk ini, tak bisa kubayangkan aku dengan bodohnya
menempelkan pipiku ke pipi Dan. Aku terus – terusan memikirkan hal itu sambil
menggeleng – gelengkan kepalaku. Akhirnya ku baringkan tubuhku ke atas kasur
dan ku pejamkan mataku, belum ada 5 menit sudah ada yang mengetuk pintu
apartemenku. Siapa orang aneh yang akan menggangguku? Ketika kubuka, orang rapi
dengan kacamata minus yang dipakainya, siapa dia? Pemuda itu mendungklukan
badannya dan menatapku. Aku bingung dan sedikit membalas dungklukannya. Ia
merogoh kantongnya lalu menunjukkan sebuah kartu nama. Disitu tertulis Namanya
Azora Yanguchi, ia melepas kacamatnya.
“kau ingat aku?” laki – lakii itu menatapku dengan
godaanya.
“apa? Kau.. Azora
Yanguchi, kan?”itu identitas yang ada
di kartu namanya.
“ayolah Gitā
Utari, aku yakin paman Utaro akan sedih kalau kau lupa aku..”
Dia mengenal
ayahku? Darimana? Gumamku dalam hati
Lelaki tadi mendekatkan terus wajahnya,
dan meyakinkanku.
“Ayolah kak, aku ini
adikmu tercinta?”
Heh?? Kapan ayahku
membuat adik laki – laki?
Hanya hal itu yang
terpikirkan saat pemuda itu bicara seperti tadi.
“ya.. tuhan! Kau
itu tidak peka – peka ya!!”mukanya
lelaki itu sudah berubah jadi merah padam, dia mirip Tengu4. Dengan hidung yang mancung itu.
“aku ini calon
suami mu tau!!”teriaknya dengan
sedikit tersipu.
Ë
Badanku terasa berat
untuk bergerak.. kalimat yang ia ucapkan tadi itu apa tak salah dengar aku?
BRUK..
Benar saja
badanku
terjatuh begitu saja, mulutku menganga. Dengan wajah penuh khawatir ia
bertanya.
“kau tidak apa?
Hei, Gitā – chan!” Dia mendekatkan
wajahnya.
Aku bingung harus
berkata apa.
“kau keluar!” mungkin hanya itu, karena aku harus
menenangkan diriku.
Mungkin juga lelaki
tadi tidak mau pergi soalnya dia menampakkan wajah tidak mau. Tapi aku lebih
memaksa dan mendongklekan kepalaku. Akhirnya dia pergi dari apartemenku. Kenapa
ini terjad? Ayah, sejak kapam kau merencanakan semua ini? Sungguh ini semua
aneh. Sfetelah kuingat – ingat lagi memang benar keluarga Yanguchi sudah
melamarku sejak aku masih berumur 3 tahun. Laki – laki tadi itu Azora lelaki yang dulu culun, klimis, dan
ingusan. Tapi dia tampan sekarang.
Tidak boleh!! Aku menggerutu
pada siriku sendiri.
Keesokkan harinya aku berangkat
kekampus. Hal yang biasa sebagai mahasiswi. Tapi, ada seseorang yang telah bus
dia Dan. Kenapa ini semua seperti takdir ya? Baru saja aku ingin menyapanya, ada seorang gadis lain
yang menyapa duluan. Mereka serasi sekali, ya? Semangatku langsung tidak ada,
TIDAK!! Aku harus tetap semangat!!
Yosh! Langsung
kita, masuk!
Ketika aku ingin menaik busnya aku baru
sadar, busnya sudah jalan duluan.
ARRGHH!! Tolong
aku!!!
Gerutuku dalam hati.
Gara – gara si
Dan itu aku
ketinggalan bus, dan lari dari rumah ke kampus.
Doushite?! Gerutuku lagi.
Sampai dikampusku sungguh
aneh ada 5 orang berjas putih yang menatapku terus – menerus dan mulai berjalan
kearahku, karena panik aku lari saja. Aku lari ke koridor lantai 2, tapi mereka
tetap mengikutiku dengan berjalan cepat. Disaat aku berlari seseorang yang tak
kukenal menyekapku. Tangangnya besar sekali. Ketika orang – orang berjas itu
pergi orang yang menyekapku melepaskan tekapannya. Akupun ingin mengucapkan
terima kasih pada... itu.. Dan?!!
“kau? Sedang apa
disini?” kalimat yang tadinya
ucapan terima kasih semunya berubah.
“sssttt.. jangn teriak – teriak
seperti itu..!” dia menatapku
kosong.
“iya maaf... kau laki – laki
yang waktu itu kan?” aku pura –
pura saja tak tau namanya.
“Namaku Dan
Nazomaru.. Aku kerja disini..”
Sejujurnya aku tau namanya, tapi soal ia kerja disitu
sungguh – sungguh mengejutkanku.berarti dia punya banyak sekali kerja sambilan.
“hei! Jangan bengong! Kau mahasiswi?”
“iya,.. oiya aku pergi dulu
ya, aku ada kelas” baru saja aku
mau lari keluar ruangan ada suara tapak kaki dari laki – laki berjas tadi. Lagi
– lagi Dan menarikku kebelakan. Wajahnya dekat sekali... aku ingin teriak
sekencang – kencangnya, tapi bibirku di cium oleh Dan dia menyekapku dengan
bibirnya langsung.
Dan melepaskan bibirnya. Wajahnya tidak
merah sedikitpun. Dia laki – laki yang aneh.!!
“maaf ya, kalau tak begitu
kau pasti akan...”
Belum selesai dia
menjelaskan aku sudah memotongnya.
“tidak apa – apa..
Dagh! Kalau mau bicara lagi nanti ku temui di kantin ya..”
Aku berlari
kekelasku. Kelas desain, ±51 kali aku masuk kelas desain baru kali ini aku
melamun .. memikirkan hal tadi, bibirnya dan bibirku... OH MY G£D!!! Dengan wajah yang aneh
sensei caterina menegorku dan alhasil aku di suruh membuat 20 lembar pose yang
berbeda – beda. Ya ampun itu sungguh Freak!! Saat kelas itu sudah selesai aku
berjalan menuju kantin tempat yang paling nyaman untuk mengerjakan tugas dengan
dilengkapi makanan – makanan. Ini tempat yang sunggug – sungguh mengasyikan ...
tadinya, sampai si Monster es itu datang. Siapa lagi.. Dan!! Dia duduk tepat
disebelahku, dengan wajah ingin tau apa yang kukerjakan. Yang berubah darinya
adalah pakaiannya, kini dia seperti laki – laki seumurannya. Meskipun aku tak
tau berapa umurnya.. ^_^. Sepertinya ada yang ia ingin sampaikan tapi karena ia
melihat ku sedang sibuk jadi tidak jadi – jadi, 3 kali ia menahan perkataannya.
Aku muak dan menutup buku desainku sambil menatap Dan.
“Nani?!!6”menatap Dan dengan sinis.
“itu.. Aku ungun tau ..
namamu?”dia sedikit takut dan
kaget makanya terbata – bata.
“apa? Namaku? Perkenalkan
aku Gitā Utaro! Aku adalah anak dari Suara Gitar!!” dengan bangga kutunjukkan siapa aku.
“kau anak dari
suara gitar? Tapi kenapa masuk jurusan Desain Fashion? Sungguh aneh..”ia mengatakan itu dengan wajahnya
yang dingin sambil melirik ke arah bukuku...
“Ceritanya panjang, ayahku Cuma tak mau
aku menuruni bakat ibuku di bidang seni musik. Ia lebih suka yang tenang seperti
melukis atau menggambar..” panjang lebar
aku bercerita, Aku ingat ada kelas Anatomi.
“emm.. aku munta nomormu
boleh?”
Omonganya tak kuhiraukan..
“maaf Dan .. Aku ada kelas
jadi aku..”
Dia menahanku begitu
kencang.
“Nomormu dulu..!” pintanya agak memaksa.
“XXXX... permisi!”
Aku kabur sejauh
mungkin. Bukan kabur sih, aku memang ingin masuk kelas. Kelas Anatomi adalah kelas
mengenal bagian tubuh dan bentuk – bentuk pose. Yaah.. kali ini ada asisten dosenku
dia laki – laki.. dan ia terlihat seperti .. Dan!! Mataku terbelak menatapnya,
si Dan ituu terus menatapku dan mengedipkan matanya
“Akh!!! Anata wa!!..7” aku baru sadar kalau itu bukan Dan, semua anak dikelas
menatapk u aneh.
“Utaro!! Diamlah!!” yang teriak itu dosenku sepertinya
semua dosen sudah tau namaku. Malu sekali rasanya tadi.
Melodi lagu
“Payphone” terdengar ketelingaku, benar itu nada dering handphoneku. Tapi yang
menelponku siapa? Nomornya tidak ada dalam kontakku.. aku angkat teleponnya dan
orang diseberang sana berkata.
“Hai.. ini aku.. Dan, apa
kau mau jalan – jalan ?”
Aku diami
ucapannya tadi..
“hei.. ini Gitā Utaro kan? Halo?”
Aku diami lagi
dan kututup teleponnya.
Tut. Tut. Tut.
Tut.
Dan itu aneh
atau gila
sih? Dia begitu dingin pada perempuan yang lain tapi kenapa sekarang dia...
lagi – lagi suara langkah kaki itu, langkah kaki orang – orang berjas
putih.Its’s time to RUN!! Sepertinya
mereka mengetahui keberadaanku ini, langsung mereka mengikutiku. Aku berusaha
pergi jauh dan keluar dari kampusku. Aku belok kearah toko ramen, tempat yang
aman dan nyaman dan kenyang tentunya untuk bersembunyi. Untung saja Nona Ichigo
akrab denganku meski pelit terhadap uang dia tetap loyal terhadap benda.
Katanya “Apapun akan kuberikan makanan/minuman secara gratis padamu asal tidak
uangku..,” kali ini ia menawariku Udon gratis tapi kutolak, aku lebih memilih
persembunyian gratis daripada makanan gratis. Semua pasukan berjas itu melewati
rumah makan ini begitu saja. Tapi, ada satu orang yang melongok ketempat ini
dan berteriak.
“Hei! Coba kesini
dulu!!”
Merekapun berbondong
– bondong masuk dengan tampang sangarnya. Aku bersembunyi dilantai 2 dengan
berdoa tanpa henti, samar – samar aku mendengar suara nona Ichigo. Sepertinya
mereka menanyakan diriku. Ketika sedang serius – seriusnya mendengarkan, nona
Ichigo tiba – tiba datang dan menaikkan kedua alisnya. Aku tau ia mau
mengatakan apa. “Apa kau gila?” atau “kau gila, ya?!”. Tapi semua dugaanku
salah ia malah bilang.
“Gitā ..! cepat
sembunyi!” dengan berbisik
– bisik. Ini gawat, pasti mereka mau menggeledah tempat ini. Akupun masuk
kedalam ruangan, ruangan kulkas untuk daging. Dingin sekali disini, tapi tidak
apa- apa. Aku mundur.. mundur.. mundur.. BRUG! Sepertinya aku menabrak sesuatu,
kutolehkan wajahku itu... ha?! Kok si Dan lagi??sebenarnya dia itu apa sih?
Seperti hantu saja. Wajahnya biru semua, itu yang membuat kulebih yakin ia
adalah Hantu. Mulutnya mulai berseri menampakkan senyuman. Apa yang menyenakan.
Sedangkan diluar, para pasukan berjas itu mencari – cariku. Aku mengintip dari dalam,
ada Azora. Jadi dia yang menyuruh orang – orang itu, dasar! Dian ingin memata –
matai aku? Jahat!!
“hei, kau
kenal dia?” Dan berbicara dengan nada
yang sangat rendah. Aku bersiaga satu.
“ti.. tidak kok..” lebih
baik mengelak untuk saat ini.
“bohong! Untuk apa kau
sembunyi jika kau tak kenal?”
Dia benar sih.
Harusnya aku
mencari alasan lain.
“oiya, kau itu unik ya,
kucium tidak marah, ditelepon tidak berbicara,.. Aku tertarik padamu..”matanya menggodaku. Apa maunya dia..
aku tak mau.. belum selesai aku menggerutu lagi – lagi dia menyekapku. Anak
buah Azora mengintip ke dalam ruangan ini. Aku dan Dan berusaha sembunyi.
Badanku terasa hangat saat itu. Tidak boleh aku tidak boleh menyukainya!! Itu
dilarang keras.
Ë
Setelah mereka semua pergi nona Ichigo
memanggil kami tapi, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi. Semuanya terasa
dingin Dan memegangiku dengan erat, pandanganku gelap sekali dan benar saja aku
pingsang. Setelah siuman nona Ichigo memberikanki kocha8, badanku bertenaga lagi. Yang terpikir oleh ku
setelah itu, Dimana Dan? Aku clingak clinguk mencarinya, nona Ichigo melihatiku
terus.
“Gitā.. Dan dari tadi
sudah pergi.. tapi, selama
30 menit penuh ia memegangimu terus dan setiap 10 menit sekali ia menelpon ku
menanyakanmu.”
Saat itu perasaanku campur aduk.
Aku memikirkannya terus apa dia baik – baik saja? Apa ini? Kenapa aku terus –
terusan memikirkan Dan begini?
Aku berjalan
menelusuri jalan trotoararah pulang. Selangkah, dua langkah. Lagi – lagi
kepalaku pusing, aku bersandar ke tiang listrik. Tanganku mengarahkan ke taksi
yang melintas. Taksi itu berhenti didepanku, dengan hati – hati aku melangkah
masuk ke taksi. Baru aku ingin bicara tujuanku, tiba – tiba...
“mau kemana nona...
Utaro??”
Langsung pandanganku kearah supirnya.
Supir itu menoleh dan lagi – lagi itu adalah Dan. Apa orang itu selalu
membuntutiku ya? Sungguh aku rasanya ingiin keluar kalau punya tenaga -_-“
“emmm.. kau Dan kan??”aku sedikit bertanya.
“ya.. tujuanmu nona?”
“Ya.. apartement Konbu..”
Dia terdiam sejenak, lalu..
“kau tinggal
disana nona?”
“ya..”
Cukup singkat
pembicaraan kita, aku takut aku menbuat pohon cinta tumbuh.
Dan terus –
terusan menatapku
melalui spion atas. Aku pura – pura tidak melihatnya (meski aku tau yang ia lakukan)
tapi lama – kelamaan kenapa aku merasa risih ya.. seperti sedang dibuntuti.
Akupun menatap ke spion atas juga, dengan tatapan sinis aku mengisyaratkan
“Diam!!”.
Si Dan itupun menyetir kembali dengan
fokus ke jalan. Ketika 30 meter sebelum apartemen – ku, Dan menanyakan sesuatu.
“emm.. kau dikamar
berapa?”
“eh? Apa? Kamar apa?”aku bingung, maksudnya apa, apa
maksudnya kamar apartemen?
“ya... kamar
apartemenmu? Nomor berapa?”
Katanya sedikit geram dengan jawabanku.
“aa... kamar 27 lantai
2 paling pinggir.”
Dia terdiam lagi. Ada yang
aneh kenapa dia terus – terusan tiba – tiba diam begini? Tak apalah, dia jadi
tidak mengganggu lagi. Setelah sampai di apartemen, aku membayar taksinya, dan
meninggalkan Dan. Namun tanganku ditarik oleh Dan. Dia menatapku dengan sangat
mani. Aku melepaskan genggamannya, dn memanggilku dengan suaranya yang payau.
“oi, NONA UTARO.. jam 3
sore aku
akan kerumahmu.. dengan bunga tulip, oke?”
“Hei?! Memang kau..”
“ssstt.. aku ini Dan kau
akan menjadi calon kekasihku.. ”dia menahan
perkataanku.
“Apa? Aku..? tapi...”
“Dagh!”
Buru – buru si
Dan itu menancapkan
gasnya, aku ingin menarik bibirnya yang suka melakukan sesuatu seenaknya saja.
Aku melepaskan
sepatu dan menuju ke ruangan makan. Kuminum segelas air tapi rasa kering ini
masih tidak hilang. Tiba – tiba kepalaku mulai pusing kembali, ini pasti akibat
pingsan tadi. Ini jam berapa sih? Aduh, jam 3? Kok goyang
Tok! Tok! Tok!
Tok!
Selangkah kulajukan
kakiku, mataku makin berbayang. Orang itu membuka pintu itu dan menatapku
khawatir, tak terlihat sedikitpun wajahnya. Tidak terlihat. Aku pun berakhir
dipeluka orang itu yang diduga adalah laki – laki.
Mataku masih terpejam meskipun aku tak
sepenuhnya pingsan laki – laki itu terus memegangi tanganku, seakan tak mau
terjadi apa – apa padaku. Setelah tubuhku mendingan, kubuka mataku perlaha –
lahan, orang itu... Azora? Bukan! Itu Dan.. ia membawa bunga tulip. Tunggu
berarti in sudah jam 3, dia benar – benar datang. Seandainya tidak ada dia
aku.. aku pasti..
“terima kasih..”tiba – tiba saja keluar ucapan itu.
“ya, tak masalah....”
Dan menatapku terus, aku
mulai mengalihkan situasi dengan mengambil air untuk diminum. Dia menahan
tanganku, ku palingkan wajahku karena sudah merah padam. Tangan sebelah kirinya
memegang pipiku. Mata kami saling bertemu,Dan mendekatkan wajahnya, kami
layaknya orang mau berciuman.
CGELK!
Tiba – tiba
Azora datang dan terkejut
melihat aku dan Dan yang... seperti ini. Dia menyunggingkan kedua alis dan
bersiap untuk marah – marah, tapi Dan menyuruh diam dan berkata. “biar
kulanjutkan sedikit setelah itu aku akan pergi, oke?” Azora kebingungan dengan
perkataan Dan. Dan langsung menatapku dan mencium keningku, dia melakukannya
dengan cepat. Aku yang diciumnya langsung matii gaya. Dan langsung menuju
pintu, tapi sebelum ia keluar dia sempat berhenti seperti berbicara dengan
Azora. Sebenarnya, aku ag kecewa dengan tindakkan Dan tadi... kenapa hanya
keningku? Kenapa bukan bibirku? Tak sadar aku memegang bibirku sendiri. Apa
yang dipikirkan oleh Gitā Utaro ini? Aku tak boleh mesum dan memikirkan Dan
terus, huuuh... Azora terus menatapku dengan mata khawatir dan kesal. Dari
tatapan matanya juga sepertinya ada yang ingin ia ucapkan.
“Azora..”
“Gitā.. kau,”
“ya?”
“besok kau ikut aku
ke Inggris..”
“APA??!!! Kenapa tiba –
tiba ?!!”
“Apa yang tiba – tiba?
Apa kau
lupa? Aku sudah bilang aku calon suamimu
dan pasti jadi suamimu!!” ketusnya.
“tapi..”
Bagaimana dengan Dan?aku
masih memikirkan Dan.
“Oiya, pria tadi ...”
Aku langsung
menatap mata Azora dan dengan wajah antusias mendengarkan kalimat berikutnya.
“dia bilang, dia
menyukaimu.. katanya kau itu sangat keren dan beda, besok kau disuruh bertemu
dengannya ditaman kota jam 9, tapi aku lupa bilang kalu ku..”
“aku kenapa??” wajahku berubah.
“kau tidak bisa
datang..!”
“Apa?!! Apa hakmu!! Aku yakin
aku bisa datang!!!”
Emosiku sangat meluap
– luap seperti akan meledak. Dia itu tidak jauh beda dengan orang tua zaman
dahulu!! Mengatur – atur seenaknya!!!
“oh, begitukah? Tapi
pesawat kita terbang pukul 09.45 dan aku akan menjemputmu pukul 09.15.”
Mataku terbelalak
serasa akan keluar. Aku begitu shock, saking shocknya aku ingin menonjok wajah
Azora itu. Untungnya aku sadar ada waktu 15 menit sebelum ia menjemputku.
“tapi ada waktu 15 menit!!
Setelah itu di taman kota kau boleh menjemputku..”
“........ baik, jangan lupa
kemaslah barangmu dengan rapi.”
Azora ingin
menepuk
kepalaku, tapi kutolak mentah – mentah. Ia menekuk wajahnya dan berbalik, Azora
terlihat sangat geram. Tapi ditahannya dan pulang. Setelah kejadian tadi ittu
aku terus – terusan menatap handphoneku. Berharap Dan menelponku, Dan mengakui
ia menyukaiku terlebih dahulu. Aku ingin tetap membiarkan hal itu sampai ia
mengakui ia MENCINTAI – ku, baru giliranku mengakui ARRGGHH!! Sekarang aku
masih belum boleh mengakuinya. Handphoneku berdering nada tanda ada sms,
deringan itu membuyarkan semua lamunanku. Itu sms dari Dan!
Sorry, aku hanya
mengirim pesan kalau kutelepon pasti kau takkan menjawab.
Aku berfikir
mungkin kalau sekarang akan kujawab Dan.
Tak apa.. kau
benar aku tak mungkin menjawabmu jika kau telepon. Ada apa??
Kau.. besok aka datangkan?
Ya,, apa kau benar –
benar menyukai ku??
Emm...
spertinya begitu. Besok
jangan telat ya.. Dagh!
Secepat itu?
Apa ia gugup? Aku
tak boleh terlalu percaya diri! Oh, ya aku harus meng – pack untuk besok.
Ë
KRIING..!! KRIIING..!! KRIING!!
Suara
mengganggu apa itu? Sungguh pagi – pagi seperti ini aku hanya ingin
tidur nyenyak. Setelah ku intip, jam 8, oh.. baru jam 8. Harusnya aku bangun
jam... APA??!!! Jam 8?!! Aku harus siap – siap ke taman. Haduuuhh!! Belum
mandi, dandan, Mati aku. Waktunya ngebut!!! Setengah jam berlalu (itu waktuku
untuk mandi saja). Aku berdandan dengan secepat kilat, ini sudah jam 9 tapi aku
baru keluar kamar apartemen dengan koperku. Aku menberhentikan taksi dan sebisa
mungkin aku menyuruh supirnya ngebut. Sesampainya ditaman kota (itu sudah
pukul09.15) Azora sudah datang, dia sepertinya sudah memberi tahu Dan. Karena
Dan menatapku bingung dan matanya berkaca – kaca.
“Gitā ..”panggilnya.
“Azora, kumohon beri
waktu 3 menit saja ..”
“yah.. baiklah”pasrah Azora.
“Dan, begini ... kau sudah dengar
tentang aku ...”
“Aku Mencintaimu!!”potong Dan.
“!!”Aku dan Azora
sama – sama kaget.
Wajahnya
sangat sangat sangat merah, apa dia belum pernah menyatakan cinta?
“Dan, maafkan aku tapi...
aku sudah punya calon suami,”
“Aku mengerti..
tapi tidak bisakah kau bilang..”
Belum selesai ia
bicara padaku Azora memotong.
“Gitā Utaro, waktumu habis...
Ayo!!”Azora memaksaku
“Dan maafkan aku, maafkan
aku..”
Aku berjalan
masuk kemobil, setelah kututup pintunya, Dan seperti berkata sesuatu. Ia jatuh
berlutut, dan mobilku perlahan menjauh.
Ë
2 tahun kemudian. Ini
aku Apollo atau Gitā Utaro. Di Inggris aku mulai bermusik, bermain gitar dan
bernyanyi. Azora? Dia suamiku, maaf maksudku mantan suamiku.. kami bercerai
karena ayah Azora meninggal dan tidak ada wasiat apa – apa tentang pernikahan
kami, aku juga tak melakukan apa – apa dengannya. Karena aku tak mau Azora juga
sekarang pemain drum ku. Apa kabar ya si Dan Nazomaru? Sudah 2 tahun aku tak ke
jepang, apa dia mulai dingin lagi? Dengan tiket ke jepang aku pulang ke kampung
halamanku. Dengan alasan aku
akan berkarya disana tapi bukan pemusik melainkan pelukis. Kalian taukan ayahku
lebih suka hal yang damai dan tenang.
Sudah 2 tahun meninggalkan
apartemenku, tapi kenapa masih bersih ya? Ketika masih melihat – lihat keadaan
tiba – tiba ada seseorang yang masuk dia itu Dan Nazomaru... kenapa dia bisa
masuk kesini? Dia menatapku tak percaya,
“kau.. Gitā kan?”ucapnya tak percaya.
“ya... Dan ,aku Gitā Utaro..”
Dia berlari dan
memelukku, pelukkan hangat yang kurindukan. Namun dia langsung melepaskanku,
hampir – hampir aku jatuh.
“maaf, maaf aku lupa kau
istri si empat mata, mana dia? Apa dia dikamar?”bicaranya dengan ketus.
Aku menonjok
pipinya.
“bagaimana? Sakit? Kau dengar,
ya!! Aku mungkin kejepang lagi jika masih dengan Azora!!” bentakku.
Dan melebarkan
senyuman, dia memelukku. Dia mengajakku pergi malam ini. Kami akan ke Tokyo
Tower. It’s show time for me, akuu berdandan se – cantik mungkin. Di malam
ini aku memakai gaun pendek berwarna biru muda yan ditutupi jaket hitam dengan stocking, dilengkapi high heels 9 cm.
Rambut ku yang kini sudah panjang juga sedikit di kepang. Ketika di Tokyo
Tower, aku berjalan. Didepan Dan sudah menungguku dengan pakaiannya yang
membuatnya sangat cool. Tapi tiba –
tiba SLEB!! Perutku.. berdarah, sakit .... Dan berteriak namaku. Dia sangat
kaget sampai mengeluarkan air mata. Aku sudah tak bisa berkata apa – apa. Aku
sudah tenang dialam sana. Menatap Dan yang terus – terusan semakin cuek dan
dingin, aku harap dia menemukan orang yang bisa membuatnya hangat lagi.
End.
Lebih baik kalian katakan sekarang kalau
kalian suka dia sebelum kalian seperti aku, pergi tanpa menyatakan apapun
tentang perasaanku.
__________________________________________________________________________________
1.
Ane – san.. Daizo ka? : kakak.. kau baik – baik saja?
2.
Ane – san : kakak
perempuan orang lain.
3.
Kami
: Tuhan – tuhan di mitologi jepang
4.
Tengu : makhluk
legenda jepang. Pakaiannya mirip pendeta yamabushi
yang menempa diri di hutan dan gunung. Wajahnya merah dan memiliki hidung yang
panjang.
5.
Doushite?! : kenapa?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar